Minggu, 08 Mei 2011

Sebuah Cinta Abadi yang pernah ada di Bumi..


Sebuah kisah Cinta Sejati, Kisah nyata yg pernah terjadi di Bumi ini…
Sekian ratus tahun yang lalu…
Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya… seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung…. hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu… namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.
Tak berapa lama kemudian….
seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana.
Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut.
Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.
Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.
Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.
Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah..
di depan pintu…
dengan udara malam yang dingin melilit…
hanya beralaskan selembar sorban tipis.
Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..
karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…
Dan ternyata, di dalam rumah..
persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya..
Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu.
Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.
Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.
malam itu… tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana… karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan.. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.
dan Nun jauh di langit….
ratusan ribu malaikat pun bertasbih….
menyaksikan kedua sejoli tersebut…
SUBHANALLAH WABIHAMDIH
betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina
terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona…
saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati…
Tahukah Anda… siapa mereka..?
Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.
Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.
Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak.
dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.
Amiin…amiin ya rabbal’alamiin….
Silahkan SHARE kisah cinta yang tiada duanya ini ke rekan anda jika menurut anda bermanfaat
Forward from : MAJELIS RATIB DAN MAULID HABIB ABU BAKAR BIN ALWI ALHABSY

Selasa, 03 Mei 2011

Gak Semua Bisa Sukses Seperti Mbak ? What ??

menemukan catatan lama dari jalan-jalan  ke page eyang Nurul Abidah

oleh Nurul Abidah pada 13 Mei 2009 jam 16:28

Niatnya mau mindahin DNS blog saya http://noeloe.net/
Lama banget ga nilik itu blog
Seiring kesibukan intern yang makin meningkat akhir-akhir ini hmm...

Liat itu blog wahahah
Ada komentar yg bikin saya tergelitik :D
Kira-kira bunyinya :
" Hebat sih mbak bisa sampe punya jaringan 800 orang,
tapi sayangnya enggak semua bisa sukses seperti mbak "

Wahahaha....ketawa lagi aaahhh
Siapa sih yg nulis ya ?
Mogaaaaa aja bukan jaringan saya ini orang
Sayang menyembunyikan identitasnya sih dia

Well...
Sukses ??
Apa sih artinya ?

Kok ya kl saya tidak melihat sebuah sukses dari ukuran materi yg saya terima
...... yaaaaa, yang memang makin meningkat ajah -- alhamduliilalh itusih ...

Atau dari jenjang karir saya sekarang akibat menjalankan pekerjaan saya ??
Dari hasil-hasil yang saya dapat akibat menjalankan apa kek itu judulnya
Bukan jumlah teman yang sekarang makin melimpah
NOOOOO....
Bukan itu nilai sukses saya kayaknya ya please deh :D

Ukuran sukses saya hehe...
Beda banget sama ukuran sukses itu *guest* di blog saya *glek*

Sukses bagi saya lebih justru di awal sekali dulu
Ketika saya ragu melangkah
Saya berani menentang keraguan itu

Sukses bukan hari ini yang saya rasa
Tapi duluuuu banget
Ketika kemalasan melanda
Saya sanggup tetap memaksa badan, pikiran dan hati saya ttp melihat tujuan

Sukses bagi saya lebih pas kalo saya bilang
Duluuuuuu banget ketika ada tantangan dari hubby tercintah
Saya mengambil langkah tetep maju dalam diam bukan menentang apalagi mundur perlahan
NO WAY BUSWAY hehehe

Sukses bagi saya bukan nilai bonus yang meningkat dari bulan ke bulan
Tapi ketika nilai itu NOL dan saya tetap punya keyakinan,
NOL akan berubah digit yang akan makin banyak nantinya

Sukses bagi saya bukan jumlah ratusan temen baru hari ini
Tapi lebih pada ketika saya berani membuat pertemanan baru
Yang disana ada resiko, DITOLAK sama mereka-loh
So what gituloh kalo enggak mau ??

Sukses bukan hari ini kepala bisa berdiri membuktikan
Tapi duluu banget ketika kepala saya masih tertunduk dalam keraguan
Tapi tetap berjuang membangun keyakinan perlahan

Sukses bukan ketika hari ini saya bisa bilang : "Pilihan gue gak salah kan ??"
Tapi dulu ketika tak ada satupun yang memberi penghargaan
Saya sendiri mampu menghargaii
......menghargai apa yang saya pilih

Sukses lebih ketika saya berhasil mengalahkan rasa marah
Ketika bisa menahan tidak membalas komentar yang memang gak berharga dipikirin hehe *maap* yee...

Itu sukses bagi saya loh yaaa...
Justru saya tidak bisa menilainya hari ini
Ketika orang bilang sekarang : "Iya mbak sih bisa sukses, gak semua orang bisa sukses"
wadddoowww

Heran aja baca komentar si *guest* misterius di blog saya itu hihii
Belum apa-apa aja dia udah produk gagal kalo saya bilang ya
Maap ya GUEST hehe

Ya saya orang sukses, bener banget
tapi bukan apa yang ada har ini
Tapi bagaimana saya dulu.....
Lha orang saya udah sukses dari awalnya kok :D

Sukses lebih berharga dinilai dari PROSES
Bukan HASIL

Ah hasil mah hanya mengikuti aja
Itu otomatis
Dari langkah-langkah sukses yang telah kita ambil
Dari keberanian dan keyakinan
Dari pamaksaan diri keluar dari kemalasan
keluar dari zona nyaman
Berani sukses berhenti berfikir negatip

Siapa bilang gak semua bisa sukses seperti mbak ?
Itu hanya seorang yang kalah sebelum berperang hehe
Yang hanya sedikit bisa menilai arti sukses dari hasil
Bukan menilai arti sukses dari sebuah proses

Jadi sebenernya semua orang bisa sukses kan ya ?
Karena sukses itu di awal ketika kita melangkah
Ketika kita mengambil keputusan

Apa hasilnya ?
Liat nanti di depan sana, itu urusan yang di ATAS sajalah
Tuhan kan enggak tidur
Kita mah sukses aja duluan okeh..okeh

Temen2 yang sampai hari ini masih eksis bersama saya
Di level manapun itu
bagi saya kalian sudah SUKSES banget
Banding mereka2 yang out perlahan
Membiru pelan-pelan hehe
Mati suri lalu mati beneran
Karena tidak sanggup mengalahkan semua hal yang negatip baik dari dalam dirinya sendiri
Apalagi dari luar ya kalo begitu ?
Sedih :-(

See U All @The TOP

dipostkan dari FB Nurul Abidah
http://www.facebook.com/note.php?note_id=99904313335

Minggu, 01 Mei 2011

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:“Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
…Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang
mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah
sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!”
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera
membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam
pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan
suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak
ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk
sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan
anaknya sendiri!” Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin
anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran
dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati.
Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan
seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu
mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi
keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan
dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan
sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke
pelukan suamiku. Aku bilang:
“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian
menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa
berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan
betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan
yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi
rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah